Ide Bisnis: Peternakan Kerbau

Sewaktu kecil saya sudah diajarkan oleh ibu saya bagaimana caranya mencari uang dengan beternak. Di sebelah rumah kami, kami buat kandang dari kayu untuk memelihara ayam dan mentok. Urusan membeli bekatul di tempat penggilingan padi dan memberi makan ayam dua kali sehari adalah tugasku. Sebagai imbalan dari tugasku, ibu memperbolehkanku, walaupun tidak selalu, untuk menjual satu butir telur ayam untuk jajan. Masih ingat setiap aku butuh uang jajan ibu cukup berkata, “mono dol en endog”.

Sering sebelum tidur, ibu mendongengiku rahasia jika ingin kaya. Resepnya ternyata gampang. Cukup dengan merawat ayam yang ada dengan baik, telurnya jangan terus dijual, tetapi ditetaskan. Setelah populasi ayam cukup banyak, ayam tersebut bisa dijual untuk membeli kambing. Begitu pula selanjutnya, setelah populasi kambingnya cukup banyak, kambing tersebut bisa dijual untuk membeli sapi atau kerbau.
selengkapnya..

Peternakan Solusi Kemiskinan

Sungguh ironis bila kita melihat fakta bahwa masih banyak sekali masyarakat pedesaan yang masuk dalam kategori masyarakat miskin. Fakta ini dapat kita lihat dari banyaknya antrian pada saat pembagian BLT. Di satu sisi, pedesaan kita kaya akan sumber daya alam. Namun demikian, kenyataannya banyak sekali masyarakat pedesaan yang hidup miskin dan karena itu banyak di antara mereka yang pindah ke kota mengadu nasib dengan bekal pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan ala kadarnya.

Jadi, tidak mengherankan bila di kota-kota banyak terdapat bangunan kumuh di sepanjang bantaran sungai. Bangunan-bangunan kumuh ini menjadi tempat tinggal orang-orang desa yang gagal mendapatkan keberuntungan di kota.

Dengan sumber daya alam yang melimpah dan lahan pertanian yang luas, mengapa masyarakat desa tetap miskin dan akhirnya berurbanisasi ke berbagai kota? Menurut saya, hal ini disebabkan oleh dua hal utama - wawasan masyarakat pedesaan yang sempit dan kurang atau tidak tersedianya modal atau orang yang bersedia memberikan modal bagi mereka.

Banyak masyarakat desa yang tidak tahu bagaimana memanfaatkan lahan pertanian mereka secara optimal. Pengamatan saya terhadap para petani di desa saya, Petani sering hanya menanam padi dan sedikit palawija. Fokus usaha pertanian mereka adalah pemenuhan kebutuhan keluarga. Jarang terlintas dalam pikiran mereka untuk menanam tanaman unggul bernilai jual tinggi seperti durian monthong, mangga harum manis, atau pisang cavendish (pisang Ambon putih) di pinggir sawah atau tanah mereka.

Karena tidak tersedia uang yang cukup banyak, mereka tidak beternak kambing, sapi, atau kerbau padahal selain ternak itu sendiri dapat dijual, kotoran berupa tahi maupun kencing ternak tersebut sangat bermanfaat sebagai pupuk kandang dan penghasil biogas. Penggunaan pupuk kandang ini sangat menyuburkan tanaman dan mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang harganya mahal dan cenderung naik terus serta dapat mencemari dan merusak lingkungan. Begitu pula, biogas yang dihasilkan dari kotoran ternak sangat menghemat biaya pembelian minyak tanah untuk memasak dan mengurangi penebangan pohon secara serampangan untuk kayu bakar.

Seharusnya, uang yang tidak cukup untuk membeli ternak jangan menjadi penghambat bagi masyarakat untuk beternak. Mereka dapat memulai dengan beternak unggas seperti ayam, bebek, atau itik, yang modalnya cukup beberapa puluh ribu saja. Seandainya mereka tidak punya uang beberapa puluh ribu, mereka bisa menjalin kerja sama bagi hasil dengan tetangga yang punya ayam. Setelah populasinya cukup banyak, ayam tersebut bisa dijual untuk membeli kambing. Begitu pula selanjutnya, setelah populasi kambingnya cukup banyak, kambing tersebut bisa dijual untuk membeli sapi atau kerbau. Jadi, wawasan dan pemahaman agrobisnis harus ditanamkan dan disebarkan di kalangan masyarakat pedesaan.

Itu dari pihak petani. Sekarang kita lihat dari pihak yang memiliki modal. Pemilik modal yang saya maksud di sini bukan lembaga keuangan seperti bank dan lembaga keuangan formal lainnya. Fasilitas kredit dari lembaga keuangan seperti ini tentu sangat merepotkan bagi petani baik dari segi tingginya bunga maupun rumit dan beratnya persyaratan dan prosedurnya.

Pemilik modal yang saya maksud di sini adalah orang perorangan yang memiliki dana yang cukup untuk membeli setidaknya sepasang ternak - kambing, sapi, atau kerbau.

Mungkin pemilik modal di desa jauh lebih sedikit daripada di kota. Karena itu, melalui tulisan ini saya menghimbau agar siapa pun yang masuk kategori pemilik modal menurut pengertian yang saya maksud dalam tulisan ini segera menjalin kerja sama bagi hasil peternakan - kambing, sapi, atau kerbau. Pemilik modal menyediakan minimal sepasang ternak beserta kandangnya, dan peternak menyediakan lahan dan pakannya. Perhitungan bagi hasil antara pemodal dan peternaknya bisa 70%-30%, 60%-40%, atau 50%-50%, tergantung kesepakatan antara pemodal dan peternak sehubungan dengan beban yang ditanggung masing-masing pihak. Misalnya, pembagian 50%-50% diberlakukan bila pemodal hanya menyediakan ternak, dan peternak membangun kandang dan menyediakan pakan. Kalau pemodal menyediakan ternak, membuat kandang, menyediakan pakan tambahan serta obat-obatan, dan peternak hanya memelihara dan menyediakan pakan hijauan, pembagian 70%-30% dapat diterima.

Mudah-mudahan para pemilik modal di mana pun berada di seluruh Indonesia tertarik dengan konsep usaha bagi hasil peternakan ini. Segera sisihkan sebagian kekayaan Anda untuk membeli sepasang ternak dan membangun kandangnya. Carilah keluarga miskin di daerah pedesaan atau pinggiran kota di daerah tempat tinggal Anda yang bersedia menerima tawaran kerja sama bagi hasil peternakan.

Sebenarnya, saya tidak tergolong orang yang memiliki banyak dana seperti para konglomerat dan pejabat pemerintah kita. Walaupun begitu, saya sekarang sedang menabung untuk membeli 2 ekor kerbau untuk dititipkan di keluarga miskin di desa saya. Kebetulan saya sudah menemukan orang yang bersedia memelihara kerbau saya nanti dengan persentase bagi hasil anakannya 50%-50%.

Ini target jangka pendek. Target jangka panjang saya adalah memiliki lahan sendiri seluas minimal satu hektar untuk peternakan berbagai jenis kambing (kambing Kacang, kambing Peranakan Etawa, kambing Etawa, kambing Boerka, kambing Boerawa, dan kambing Boer), sapi (sapi Bali, sapi Simental, dan sapi Limusin), dan kerbau serta kuda. Saya akan menawarkan kerja sama bagi hasil kepada para keluarga miskin dengan menyediakan sepasang kambing, sapi, atau kerbau beserta kandangnya. Doakan semoga target ini tercapai ya.:)

Peternakan adalah usaha yang relatif mudah dilakukan oleh siapa pun dan menguntungkan. Karena itu, mari kita bangun desa kita melalui usaha peternakan. Mari kita berantas kemiskinan melalui usaha peternakan. Mari kita bantu masyarakat miskin melalui usaha nyata yang saling menguntungkan - kerja sama bagi hasil peternakan. Mari kita bekali masyarakat miskin dengan kail daripada kita beri ikan kepada mereka.

Peluang Agrobisnis Peternakan Kerbau

Tahap awal, insya Allah pada bulan April mendatang saya akan membeli kerbau untuk dititipkan disalah satu keluarga di desa saya. Dibandingkan dengan sapi, kerbau memiliki beberapa keunggulan. Hewan ini tergolong hewan ternak yang sederhana, mudah dipelihara, mudah beradaptasi, dan dapat digunakan untuk membajak sawah dan alat angkutan. Kerbau dapat hidup di daerah rawa, daerah bercurah hujan tinggi, dan daerah yang kering.



Kerbau juga mampu memanfaatkan pakan bermutu rendah seperti rumput kering dengan kadar nutrisi rendah dan serat kasar tinggi. Selain itu, kerbau juga mampu menyesuaikan diri terhadap tekanan dan perubahan lingkungan yang ekstrim. Misalnya, kerbau bisa hidup dengan baik meskipun terjadi perubahan suhu dan vegetasi padang rumput.

Kalau peranakan sapi impor mampu mencapai berat badan hidup 450 kg atau lebih dan karkas 45 hingga 60%, kerbau mampu mencapai berat badan hidup yang tidak terlalu jauh dengan sapi. Kerbau dewasa lokal dapat mencapai bobot 366 hingga 800 kg dan karkas berkisar 32 hingga 44 persen. Biasanya, kerbau dewasa jantan berumur dua tahun sudah mencapai bobot hidup 410 kg dan kerbau dewasa betina 367 kg.

Sebenarnya, kerbau sudah sangat dikenal karena sudah lama diternakkan oleh masyarakat pedesaan. Namun demikian, peternakan kerbau ini umumnya dilakukan dengan cara tradisional dan subsistensial. Belum banyak peternak yang memelihara kerbau dengan metode peternakan modern dan komersial meskipun peluang pasarnya sangat besar dan terus meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk dan peningkatan kebutuhan protein hewani.

Dengan kata lain, peluang agrobisnis peternakan kerbau sangat cerah. Selain itu, keuntungan dari peternakan kerbau adalah sebagai berikut:

Peternakan kerbau dapat dilakukan pada lahan yang sempit. Misalnya, peternak dapat memelihara 46 ekor kerbau pada lahan seluas 200 meter persegi.

Kerbau memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan.

Kerbau mudah digembalakan karena kerbau suka hidup berkelompok.

Kerbau sudah dapat dikawinkan pada umur 15 sampai 18 bulan, dan pada umur 27 hingga 28 bulan sudah beranak pertama dan selanjutnya beranak setiap tahun. Dengan demikian, pada umur 3 tahun 4 bulan, kerbau betina dapat beranak dua kali. Dalam waktu 25 tahun, seekor kerbau betina mampu melahirkan anak 20 ekor.

Selain menghasilkan daging dan susu, kerbau juga menghasilkan kulit, tulang, dan tanduk yang dapat digunakan untuk keperluan industri sepatu, kerajinan, tas, ukiran, dll.

Kotoran kerbau dapat dimanfaatkan untuk pupuk pertanian. Setiap ekor kerbau dewasa dapat menghasilkan 3,2 hingga 4 ton pupuk per tahun.

Daging dan susu kerbau merupakan sumber protein bernilai gizi tinggi. Keju mozarela yang lezat dan sangat terkenal di dunia terbuat dari susu kerbau. Produk fermentasi susu ini tidak kalah gizi dan manfaatnya dengan produk fermentasi susu modern seperti yogurt.

Kerbau dapat menerima pakan dari berbagai jenis limbah pertanian.

Berdasarkan uraian di atas jelas sekali bahwa peluang agrobisnis peternakan kerbau sangat menguntungkan. Namun demikian, mungkin masih ada peternak yang beranggapan bahwa daging kerbau lebih rendah mutunya dibandingkan dengan daging sapi. Sebenarnya, anggapan ini keliru. Tentu saja, mutu daging kerbau rendah karena biasanya kerbau dipotong setelah tidak kuat lagi membajak sawah. Dengan kata lain, kerbau ini dipotong setelah berusia tua.

Sebenarnya, sapi dan kerbau memiliki mutu daging yang relatif sama pada kondisi yang setara. Hal ini telah dibuktikan oleh Zakariev dalam Sumoprastowo (2003:63). Penelitian ini menyimpulkan bahwa daging sapi dan kerbau sama lezatnya. Perbedaannya adalah daging kerbau berwarna lebih merah dibandingkan dengan daging sapi. Serat daging kerbau lebih kasar, lemaknya berwarna putih, dan bila diraba lemaknya melekat pada jari. Bahkan, Direktorat Gizi Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam Cahyono (2010:16) membuktikan bahwa kadar lemak daging kerbau sangat jauh lebih rendah (0,5 g) daripada daging sapi (22 g).

Hmm kayaknya menarik ya beternak kerbau. Bagi yang punya uang tapi tidak ada lahan, jalin kerja sama dengan petani di pedesaan yang memiliki lahan namun tidak punya uang untuk membeli bibit kerbau. Bagi yang belum punya uang, mulailah menabung dari sekarang untuk membeli bibit kerbau. Tabungan ini bisa berupa tabungan uang tunai atau juga tabungan berupa ternak sapi atau kambing. Kalau belum mampu beternak kambing, cobalah beternak ayam atau itik, yang hanya memerlukan modal beberapa puluh atau ratus ribu rupiah saja.

Berbagi Ke Lainnya