Umar bin Khattab

Ada acara kantor, 7annya adalah untuk refreshing sekaligus pemberian motivasi. Trainernya adalah dr. Arief Alamsyah dari Malang, Jawa Timur. 3 Jam ditriner sama dokter arief nggak terasa membosankan sedikitpun, waktu terasa cepat sekali. Sepertinya aku menikmati cara pembawaannya, termasuk materinya, tinggal bagaimana implementasinya saja.
Beliau mengajarkan bagaimana seharusnya kami menerima perubahan, terbuka pada ilmu, pengetahuan, tantangan baru. Mengajarkan arti penting dari tanggung jawab dan integritas. Mengajarkan kami bangga pada pekerjaan kami.
Point penting dalam postingan kali ini adalah masalah perubahan. Beliau menyoroti umumnya manusia enggan untuk berubah. Mengatakan bahwa semuanya sudah takdir, sudah watak saya seperti ini, nggak mungkin bisa dirubah. Namun, alibi alibi semacam itu beliau patahkan dengan mengambil sosok Umar Ibnu Khattab. Ternyata beliau sangat mengidolakan Ibnu Umar, sahabat Rasulullah Muhammad SAW.
Umar bin Khattab yang dahulunya adalah orang yang sangat buruk perilakunya (karena kejahiliahannya) (ia sampai tega mengubur putrinya sendiri hidup-hidup), ia minum minuman keras, dsb ,  saja bisa berubah menjadi orang yang berakhlak mulia. Bahkan apabila ia teringat atas apa yang ia lakukan dulu ia menangis.
Itulah Umar bin Khattab. Kemudian saya berkaca pada diri sendiri, apakah saya sudah baik dalam berperilaku?
Pada zaman yang serba bebas seperti sekarang ini, di mana kesempatan bermaksiat tanpa diketahui manusia begitu besar, maka tinggal imanlah benteng terakhir. Jika iman melemah, maka aku kalah oleh nafsuku.
Seperti dr. Arief juga yang menyesali bahwa ia pernah menjadi bandel dan pernah pacaran, namun ia bisa berubah meninggalkan hal buruk itu. Aku pun ingin mengikuti jejak dr. Arief dan Sayyidina Umar Ibnu Khattab.



Berbagi Ke Lainnya