Jenderal Djoko Santoso Kagum dengan Totalitas dan Komitmen PKS

Pilpres telah usai, pun akhirnya masing masing partai politik kembali ke basis dan kesibukannya masing masing.

Terdapat dua buah kesimpulan besar dari bang dw atas evaluasi dari seorang praktisi intelejen senior DS (Djoko Santoso)

Pertama, belajar komitmen dari PKS


"Kagum pada PKS, selalu totalitas didalam berjuang, cyber army nya menjadi prajurit terdepan di social media (socmed) untuk advokasi dan membangun opini yang baik kepada prabowo subianto."

"Bahkan ada fenomena tersendiri; ketika semua parpol koalisi masih telat panas dan setengah hati berjuang, PKS berjuang seolah prabowo adalah capres dari kadernya sendiri, yup prabowo ibaratnya kader bagi PKS"

"Bagi saya (DS) kalau fenomena itu terbangun di partai gerindra tentu sebuah hal yang tidak luar biasa. Tapi hal tersebut terjadi pada PKS, yang pada pileg kemarin bahkan menjadi lawan politik bagi gerindra"

"Di seluruh Indonesia, sebenarnya koalisi merah putih bisa bergerak diatas jalan yang telah dibangun PKS dan gerindra"

"Saya (DS) juga tahu bahwa pada sebelum tanggal 22 juli ketika keputusan KPU akan keluar; prabowo subianto justru lebih banyak telepon atau komunikasi kepada taufik ridho sekjen PKS dibandingkan kepada partainya sendiri gerindra"

"Bagi saya itu hal yang sangat jarang terjadi, seorang calon presiden dari sebuah partai tetapi justru merasa sangat dekat dengan partai lain yang hanya berposisi sebagai pendukung semata."

Kesimpulan kedua, PKS tak memiliki DNA pengkhianat

"Saya (DS) selama menjalani tugas di dalam team advokasi pembelaan merah putih; sebenarnya menemukan begitu banyak pengkhianat alias pembocor informasi."

"Didalam ibaratnya sebuah suasana perang, pembocor informasi lah yang membuat salah satu kubu bisa kalah"

"Dan bagi militer, pembocor informasi sama saja seorang pengkhianat. Karena begitu 'jelek' perbuatannya, dengan rela menjual segala informasi ke pihak lawan dengan harga tertentu."

"Dan menariknya; pembocor itu tidak ada di tubuh PKS. Pembocor itu justru banyak ada dan menyebar di semua partai kecuali PKS"

"Bagi saya yang seorang mantan panglima, dua hal utama itu sangat penting ada didalam membangun kekuatan paling kuat: KOMITMEN dan KESETIAAN"

Pantas saja sisi mantan seorang komandan macam prabowo (danjen dan pangkostrad) lebih 'memilih' dekat dan percaya kepada PKS

Walaupun PKS itu bukan partai miliknya sendiri

Dan prabowo bagi PKS sendiri bukanlah kader nya

Ibarat jiwa seorang komandan (prabowo) dengan jiwa para prajuritnya (PKS)

Itu dua kesimpulan yang saya dapatkan.

Tetapi ada sebuah kalimat,

"Perang boleh datang silih berganti; tetapi prajuritku tetaplah satu (sama)"

Perjuangan itu lahir dan ada dari sebuah kesulitan dan ketidakenakan; maka berjuanglah

Tetap berjuanglah kawan

Karena tidak ada kalimat legowo untuk ketidakadilan

-bang dw- 

Berbagi Ke Lainnya