Warsito Purwo Taruno Kader PKS Peraih Penghargaan BJ Habibie Technology Award

Ilmuwan Indonesia di dunia pengembangan teknologi tomografi Warsito Purwo Taruno yang juga merupakan kader PKS meraih Bacharudin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) ke-8 dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Warsito berhasil mengembangkan electrical capacitance volume tomography (ECVT) yang merupakan sistem pemindai berbasis medan listrik statis yang telah diaplikasikan secara luas di industri dan medis. Bahkan teknologinya ini dikenal di dunia internasional.

Kepala BPPT, Unggul Priyanto, mengatakan, peraih penghargaan ini dipilih melalui penilaian yang didasarkan pada azas-azas inovasi yang terdiri dari azas penemuan, kreatif, efisien, efektif, nilai tambah dan azas manfaat serta 10 poin kriteria penilaian.

“Penghargaan ini menekankan peneliti, perekayasa untuk banyak menghasilkan inovasi tidak sebatas paper tetapi produk-produknya bisa dipakai masyarakat,” katanya seperti dikutip dari Berita Satu dalam penganugerahan BJHTA yang juga dihadiri Presiden RI ke-3 BJ Habibie, di Auditorium BPPT, Kamis (20/8).

Unggul menambahkan teknologi yang ditemukan dan dikembangkan Warsito di Tangerang ini telah dikenal di dunia internasional. Banyak lembaga dunia telah menggunakan ECVT untuk pengembangan lebih lanjut seperti Departemen Energi Amerika Serikat, NASA, Kyoto University, Ohio State University, University of Cambridge, King Abdul Aziz University, Universiti Kebangsaan Malaysia, dan University of Malaya.

Teknologi ECVT di Indonesia telah digunakan untuk memindai tabung gas, pemindaian shale gas, pendeteksian aktivitas, dan disfungsi otak serta pemindaian kanker payudara.

Peraih BJHTA, Warsito Purwo Taruno, memandang dalam melakukan pengembangan iptek di Indonesia tidaklah mudah. Namun ia mengaku berusaha untuk sejajar dengan negara-negara lain.

Keterbatasan infrastruktur dan hambatan lingkungan merupakan persoalan berat.

“Dengan segala keterbatasan saya memilih wilayah yang tidak banyak perhatian yakni pada area level energi rendah. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan efek gelombang atau energi samping yang dianggap menyimpang dan dibuang,” paparnya.

Perjalanan riset teknologi yang selama 20 tahun pun membuahkan hasil. Karya inovasinya ini pun bermanfaat untuk mengembangan energi terbaru di masyarakat, deteksi aktivitas manusia di masa depan dan deteksi kanker dalam tubuh manusia.

Berbagi Ke Lainnya