Penambangan Pasir yang Berujung Nyawa

Salim Kancil dan Tosan Jadi Korban

Peristiwa berdarah dalam polemik tambang pasir pantai selatan di Desa Selok Awar-Awar Kecamatan Pasirian, akhirnya terjadi, Setelah, lama ada aksi pro-kontra warga setempat adanya tambang pasir, kejadian kekerasan dijadikan alat untuk sebuah memuaskan nafsu.
Dua warga tolak tambang jadi korban keganasan pro tambang di Desa Selok. Salim tewas mengenaskan dipinggir jalan dengan luka serius dibagian kepal dan sekujur tubuhnya.
Sebelum dibunuh, salim dijemput oleh gerombolan orang ke rumahnya. Kemudian, Salim tanganya diikat dan diarak dijalan, kemudian dibunuh dengan sadis.
Sedangkan satu lagi warga penolak tambang pasir dipesisir pantai selatan juga mengalami luka serius dihajar oleh orang tak dikenal sekitar 30 orang. "Beruntung pak tosan masih hidup, meski kondisinya kritis," ujar seorang warga.
Kini ratusan aparat kepolisian Polres Lumajang dikerahkan ke Desa Selok Awar-awar untuk melakukan pengamanan agar tidak terjadi konflik horizontal.



Kronologi Terjadinya Pembunuhan Salim Kancil

Pro dan kontra tambang pasir ilegal pesisir pantai Selok Awar-awar Kecamatan Pasirian akhirnya menelan korban. Parahnya, warga yang menolak tambang dibantai dengan cara sadis hampir menyerupai gerakan 30 september (G-30-S-PKI).
Info yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber di desa Selok Awar-awar, Salim warga anti tambang tewas dibunuh dengan kondisi mengenaskan. Salim dijemput oleh sejumlah orang dari rumahnya kemudian dibawa ke balai desa Selok Awar-awar.
Di balai desa, korban informasinya kemudian dipukul beramai-ramai dan diikat kedua tangnnya kedepan. Bahkan, siswa TK yang berada di balai desa dipulangkan karena ada penyiksaan kepada salah seorang warga penolak tambang.
Tak cukup sampai disitu, Salim akhirnya dibantai dengan sadis oleh warga yang pro dengan pertambangan. Mayat korban kemudian dibuang diareal perkebunan dengan kondisi tangan masi terikat dan luka dikepalanya akibat dicangkul dan juga dipukul dengan batu serta benda tumpul lainnya.
Tak hanya Salim, Tosan warga anti tambang juga nyaris bernasib sama dengan korban yang dibantai. Beruntung, saat hendak dijemput dirumahnya, Tosan melawan dan akhirnya berhasil meloloskan diri dan berhasil diselamatkan dengan luka parah kemudian dirawat intensif.
"Kita sudah kantongi nama-nama pelaku pembantaian dan juga penganiayaan kepada warga kontra tambang di Selok Awar-awar," ungkap AKBP Fadly Munzir Ismail SIK kapolres Lumajang.




Tersangka Telah Ditangkap

Jajaran Polres Lumajang langsung bergerak cepat memburu para pelaku pembunuhan sadis warga tolak tambang. Dalam hitungan jam, polisi berhasil menggelandang 12 orang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan sadis Salim warga Selok Awar-awar.
"Kita sudah tangkap 12 orang yang diduga sebagai pelaku pembunuhan sadis warga Selok Awar-awar," ujar AKBP Fadly Munzir Ismail SIK Kapolres Lumajang saat menggelar rilis dihalam mapolres
Kapolres menjelaskan, awalnya polisi berhasil menangkap dua orang saja salah satunya bernama Dasir. Dari penangkapan awal itulah, polisi kemudian menangkap sebnyak 8 orang, kemdian berkembang 10 orang dan terakhir berkembang menjadi 12 orang.
"Awalnya kita tangkap dua orang saja, kemudian berkembang 8 orang, 10 orang dan terakhir laporan dari anggota sudah tambah 2 lagi jadi semuanya 12 orang," paparnya.
Saat ini, pihak kepolisian sedang melakukan pemeriksaan intensif untuk mengetahui paran masing-masing pelaku. Pembunuhan sadis terhadap Salim dan penganiayaan kepada Tosan dilatar belakngi persoalan tambang pasir pesisir pantai Selok Awar-awar.
"Tidak menutup kemungkinan jumlah tersangka bisa bertambah lebih dari 12 orang," pungkasnya.

Sumber : Kaskus.co.id

Berbagi Ke Lainnya